MALANG POSCO MEDIA – Ironisnya, kesuksesan Hany justru lebih dulu tumbuh di luar Malang. Bukan tanpa sebab. Ia sempat merasa minder bahkan nyaris tak percaya diri karena semua keterampilan menjahit dan desain yang dimilikinya dipelajari secara otodidak.
-Advertisement-
-Advertisement-
Sekitar satu dekade lalu, Hany sama sekali tidak memiliki latar pendidikan formal di dunia fesyen. Mesin jahit pemberian sang suami menjadi satu-satunya “aset besar” yang ia punya. Busana pertama yang ia jahit pun bukan untuk peragaan busana, melainkan untuk anak perempuannya sendiri.
-Advertisement-
“Saya dari kecil suka gambar, tapi tidak bisa jahit. Anak saya suka modeling. Setiap pesan baju ke orang lain, rasanya tidak cocok. Akhirnya saya coba bikin sendiri. Ternyata malah bawa hoki, tiap lomba juara,” kenang Hany, tersenyum.
Dari situlah segalanya bermula. Busana buatannya menuai pujian rapi, nyaman, dan punya karakter kuat. Pesanan berdatangan dari mulut ke mulut. Hany mulai menyadari, hobi yang awalnya sekadar memenuhi kebutuhan anaknya, menyimpan peluang besar.
Ia pun memberanikan diri membangun brand sendiri: Torilla Mode. Kesuksesan awal tak lantas membuat langkah Hany mulus. Kritik pedas bahkan hinaan kerap datang. Kain disebut murahan, desain dinilai “ndeso”, hingga cibiran karena ia bukan lulusan sekolah desain.
“‘Bajunya kok ndeso’, ‘bukan sekolah tata desain kok bikin baju’. Pedas. Sampai sempat sedih,” ungkap alumnus Rudy Hadisuwarno School itu jujur.
Namun Hany memilih jalan berbeda. Ia tidak berhenti. Ia belajar. Mengikuti kursus jahit, desain, pembuatan pola, sertifikasi, hingga membangun pemasaran secara daring. Perlahan, Torilla Mode dikenal luas. Pesanan datang dari Jakarta, Kalimantan, bahkan luar negeri—sementara di Malang, namanya justru belum banyak dikenal.
“Banyak yang kira brand saya dari luar negeri. Padahal dari Malang,” katanya sambil tertawa kecil.
Kerja keras itu berbuah. Kualitas desain meningkat. Jaringan meluas. Hany mengikuti berbagai pembinaan dari Pemkot Malang. Hingga akhirnya, karya Torilla Mode dipasarkan ke Amerika dan Hongkong.
Produksi pun meningkat. Jika dulu hanya satu-dua potong busana per hari, kini bersama tiga karyawan, Hany mampu memproduksi enam busana per hari. Karyanya tak hanya diminati masyarakat umum, tetapi juga tampil di berbagai fashion show nasional dan internasional.
“Setelah fashion show, mata dan hati saya terbuka. Ternyata dunia fashion designer seperti ini. Dulu jualan Rp 300 ribuan saja sudah senang, sekarang sudah jutaan,” ucapnya mantap.
Kini, setelah menjejak panggung mode dunia, Hany tak ingin berjalan sendiri. Ia mendirikan Young Designer Community, sebuah wadah pembinaan talenta muda di Kota Malang. Komunitas ini beranggotakan sekitar 30 anak muda, 15 di antaranya telah memiliki brand dan tampil di panggung peragaan.
“Ini murni sosial. Saya punya ilmu, saya ingin berbagi. Saya ingin anak-anak tahu mereka punya potensi dan bisa meningkatkan ekonomi,” tuturnya.
Melalui pertemuan rutin, workshop, mentoring, dan pendampingan, para anggota—yang berusia 15 hingga 30 tahun ditempa bukan hanya soal desain, tetapi juga bisnis industri fesyen, khususnya bagi perempuan. Hany menanamkan satu prinsip kuat: maju bersama tanpa saling menjatuhkan.
“Harapan saya, mereka bisa berkembang, bahkan merambah internasional. Potensi anak-anak Malang besar sekali, tinggal diarahkan,” pungkas perempuan kelahiran Banyuwangi itu.
Dari mesin jahit sederhana di sudut rumah, Hany Sahara membuktikan bahwa ketekunan, keberanian, dan kemauan belajar mampu mengubah keterbatasan menjadi prestasi dunia. (ian/aim)
Sumber