Suasana Perayaan Pesta Adat Tulude di California, Amerika Serikat 2026

BARTA1.COM-– Suasana meriah nampak dalam pesta ada Tulude yang diselenggarakan diaspora Nusa Utara di Amerika Serikat pada 1 Februari 2026 bertempat di Presbyterian church in Claremont, California.

Keunikan simbol-simbol tradisi sakral pesta adat entitas etnik Sangihe Talaud ini terlihat disiapkan apik. Syair-syair tua dibacakan. Lagu-lagu agung Sangihe Talaud dinyanyikan.

 

Ada pemontongan kue adat Tamo, tari Salo dan Gunde di panggung utama yang membuat pesta adat ini terasa indah dan religius.

Menurut pihak penyelenggara, Konjen RI Los Angeles (LA), Purnomo A. Chandra, bersama Konsul Pensosbud, Konsul Ekonomi Kreatif, dan tim KJRI Los Angeles menghadiri Perayaan Tulude 2026 yang diselenggarakan oleh komunitas Nusa Utara di California Selatan ini.

Perayaan Tulude tersebut dihadiri ratusan hadirin yang terdiri dari WNI maupun Diaspora Indonesia, khususnya anggota komunitas Nusa Utara di AS.

Rangkaian acara dibuka dengan ibadah yang berlangsung khidmat. Sebelumnya para tamu VIP disambut melalui tarian Salo, tradisi penghormatan khas Nusa Utara. Para undangan kemudian disuguhkan drama singkat tentang asal usul perayaan Tulude, yang menggambarkan rasa syukur dan penghormatan kepada Sang Pencipta.

Temukan lebih banyak

Barta1

B</strong><strong>ARTA1

Suasana perayaan dan kebersamaan semakin terasa ketika para tamu dan undangan diajak ikut menari Gunde dan Tamo, disusul pembacaan puisi “Tulude” dalam bahasa Sangehe.

Setelah rangkaian budaya, acara berlanjut dengan sambutan dari Ketua Nusa Utara So-Cal, Vanty Ramos; Presiden IDN LA, Butce Lie; serta sambutan dari Konjen RI LA, Purnomo A. Chandra.

Acara kemudian dilanjutkan dengan makan bersama yang diiringi lagu-lagu daerah dan pertunjukan adat.

Konjen RI LA, Purnomo A. Chandra, dalam sambutannya mengatakan, Tulude bukan sekadar tradisi budaya, tetapi juga pengingat akan kuatnya ikatan persaudaraan masyarakat Indonesia di luar negeri.

 

“Semoga semangat kebersamaan dan gotong royong yang tercermin dalam perayaan ini terus menguat di tahun 2026 dan menjadi bekal bagi generasi penerus dalam menjaga jati diri bangsa,” ujar Purnomo.

KJRI Los Angeles juga mengucapkan selamat merayakan Tulude 2026 kepada seluruh masyarakat Nusa Utara di California, semoga adat yang ada terus hidup, dan menjadi sumber inspirasi bagi generasi diaspora berikutnya.

Tentang Tulude

Tulude adalah budaya sakral yang memiliki dimensi persatuan dalam merekatkan semangat kebersamaan masyarakat Nusa Utara di mana pun berada.

Tulude merupakan identitas masyarakat Nusa Utara. Banyak nilai-nilai luhur yang mengajarkan dan membimbing kita untuk memelihara kebersaman dalam mencapai kemajuan hidup.

Itu sebabnya Tulude selalu digelar dalam tata cara seoriginal mungkin, agar masyarakat Sangihe Talaud dapat melihat, memahami dan merasakan sakralitas Tulude yang sebenarnya.

Latar belakang budaya Tulude, pertama dan terutama, harus disebutkan bahwa Tulude adalah sebuah tradisi sakral masyarakat etnik Sangihe Talaud.

Temukan lebih banyak

Barta1

B</strong><strong>ARTA1

Dalam kamus bahasa Sangihe kata Tulude adalah perpaduan dari kata Suhude artinya menolak atau mendorong dan kata hude artinya meluruskan.

Tulude telah hidup dalam kurun ribuan tahun dalam aktivitas kehidupan masyarakat bahari Nusa Utara sebagai tradisi menolak bala.

Puncak pelaksanaan Tulude dalam sejarahnya mengacu pada perhitungan astronomis etnis Sangihe menyangkut posisi bintang Kadademahe (Bintang Fajar) yang berada pada posisi tegak lurus dengan kepulauan Sangihe Talaud yang selalu terjadi pada pukul 00.00 pada tanggal 31 Januari setiap tahun.

Itu sebabnya Tulude Utama harus dilaksanakan pada tanggal 31 Januari dan berpusat di kepulauan Sangihe Talaud pada setiap tahunnya, baru bisa diikuti pelaksanaannya di tempat lain.

Seiring masuknya agama-agama Samawi terutama Kristen di Sangihe Talaud sejak abad ke 16 hingga abad 19, Tulude telah mengalami transkonseptualisasi menjadi upacara adat syukur atas tahun yang lalu dan memohon penyertaan Tuhan pada tahun yang baru.

Transkonseptualisasi yang dilakukan para misionaris masa lampau di Sangihe Talaud terhadap Tulude menjadikan tradisi tua ini mendapatkan pemaknaan baru, namun tetap selaras dengan filosofi asli bahari Nusa Utara dan nilai-nilai kekristenan yang kemudian dikenal sebagai upacara adat religius yang tidak saja dilaksanakan oleh komunitas masyarakat umum tapi juga oleh komunitas gerejani.

 

Bagi masyarakat etnis Sangihe Talaud di mana pun berada, Tulude selalu dipandang semacam barisan ombak yang mewariskan citra kepribadian dan keunikan budaya sebuah bangsa yang mengafirmasi nilai-nilai religius kebaharian.

Atas dasar pemahaman inilah Upacara Adat Tulude digelar.

Penulis/Editor:
Iverdixon Tinungki

Sumber