Galeri Indonesia Unjuk Gigi di Art Central Hong Kong 2026

HONG KONG, KOMPAS.com – Di tepi Victoria Harbour, hamparan tenda putih raksasa arsitektural kembali berdiri, menampung denyut seni kontemporer dari berbagai penjuru dunia.

Selama lima hari, mulai dari Rabu (25/3/2026) hingga Minggu (29/3/2026), Art Central Hong Kong 2026 menghadirkan 117 galeri dan lebih dari 500 seniman, mengubah Central Harbourfront menjadi ruang temu ide, ekspresi, dan pasar seni yang nyaris tak pernah sepi.

Ada instalasi besar berlapis biru elektrik dengan layar animasi yang memenuhi satu sudut venue, karya-karya hiperrealis yang merekam sudut-sudut kota Hong Kong dalam kanvas berbentuk tidak beraturan, hingga instalasi organik putih berpendar milik UOB Art Space yang menjadi magnet perhatian pengunjung.

Namun di antara ratusan booth itu, ada satu sudut yang menarik perhatian dengan cara yang berbeda. Kompas.com berkesempatan menyaksikan langsung gelaran ini pada Jumat (27/3/2026).

Indonesia hadir di panggung seni dunia

Sebuah papan bertuliskan "Rising Currents" berdiri di salah satu area pameran. Papan itu memuat daftar delapan galeri Indonesia yang berpartisipasi, yakni EDSU house (Yogyakarta), Galeri Ruang Dini (Bandung), ISA Art Gallery, RUCI Art Space, SAL PROJECT, SEWU SATU, Vice & Virtue (semuanya dari Jakarta), serta Puri Art Gallery dari Bali.

Rising Currents sendiri merupakan bagian dari program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya yang diinisiasi Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Program tersebut bertujuan mengidentifikasi, mengembangkan, dan mempromosikan talenta seni dan budaya Indonesia secara terstruktur dan berkelanjutan, serta menghubungkan seniman Indonesia dengan peluang peningkatan kapasitas dan akses pasar, baik di tingkat nasional maupun global.

Keikutsertaan di Art Central Hong Kong 2026 juga merupakan bagian dari tahap Rekognisi Internasional dalam kerangka program tersebut. Melalui tahap ini, galeri dan seniman Indonesia mendapat peluang untuk memperluas jejaring serta memperkuat posisi Indonesia dalam lanskap seni kontemporer dunia.

Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia Ahmad Mahendra menyampaikan bahwa program ini bukan sekadar kehadiran simbolik.

"Melalui 'Rising Currents', kami tidak hanya menghadirkan karya, tetapi juga memperkuat konektivitas antargaleri sebagai simpul penting dalam ekosistem seni rupa Indonesia," ujarnya.

Mahendra menambahkan bahwa inisiatif itu juga membuka ruang kolaborasi yang lebih luas, sekaligus memastikan keberagaman praktik artistik talenta seni rupa Indonesia, baik yang sedang berkembang maupun yang sudah mapan, dapat terlibat secara inklusif dalam arena seni rupa global.

Program Rising Currents yang diinisiasi Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya menjadi jembatan bagi delapan galeri nasional untuk memperkuat posisi di lanskap seni dunia

Lihat Foto

Program Rising Currents yang diinisiasi Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya menjadi jembatan bagi delapan galeri nasional untuk memperkuat posisi di lanskap seni dunia(RUCI Art Space)

Bermula dari pameran kecil

Di antara delapan galeri yang hadir, RUCI Art Space menjadi salah satu yang menarik perhatian. Galeri seni kontemporer asal Jakarta Selatan ini memulai perjalanannya pada 2014 dari sebuah pameran perdana di restoran yang ditinggalkan, dan kini berkembang menjadi ruang seni seluas sekitar 200 meter persegi.

Nama "RUCI" sendiri mengandung makna sebagai sumber cahaya, rasa, dan kenikmatan, sekaligus mencerminkan misinya sebagai hub bagi industri kreatif yang lebih luas.

Dalam booth-nya di Art Central Hong Kong 2026, RUCI menghadirkan 32 karya dari dua seniman perempuan emerging berbasis di Jakarta, yaitu Cecil Mariani dan Aharimu. Karya-karya keduanya merefleksikan keragaman pendekatan dalam seni kontemporer Indonesia saat ini, dari eksplorasi identitas hingga dinamika tubuh dan narasi visual yang personal.

Gallery Director dan Co-Founder RUCI Art Space Rio Pasaribu mengapresiasi dukungan MTN Seni Budaya.

"Kami mengapresiasi dukungan MTN Seni Budaya dalam membuka akses galeri Indonesia ke platform internasional seperti ini," ujar Rio.

Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara dukungan pemerintah dan sektor swasta menjadi kunci kelancaran partisipasi tersebut, termasuk dalam hal pengiriman karya lintas negara yang membutuhkan penanganan cermat. Menurutnya, kehadiran pemerintah lewat MTN juga menjadi pemicu bagi sektor swasta untuk ikut terlibat.

Rio juga menekankan pentingnya representasi Indonesia di art fair internasional. Baginya, kehadiran yang konsisten di panggung global akan membentuk "keterbacaan" identitas seni Indonesia di mata kolektor dunia, seperti halnya karya-karya dari Korea atau Jepang yang kini sudah langsung dikenali karakternya.

Ia pun mengakui bahwa menembus art fair internasional bergengsi lewat jalur reguler bukanlah perkara mudah.

"Sebuah galeri harus membangun rekam jejak bertahun-tahun sebelum dinyatakan eligible. Program MTN pun menjadi jalan yang lebih strategis bagi galeri-galeri Indonesia untuk mulai menapaki panggung global," terangnya. 

Koordinator MTN untuk Seni Rupa Vicky Rosalina menyebut kehadiran Indonesia di Art Central Hong Kong 2026 sebagai langkah penting dalam memperkuat posisi internasional seni kontemporer Indonesia.

"Selain berhasil menempatkan karya kepada para kolektor, inisiatif ini juga mempererat hubungan dengan kurator, institusi, dan audiens baru, mencerminkan keterlibatan global yang semakin luas terhadap ekosistem seni Indonesia yang dinamis," ujar Vicky.

Art Central Hong Kong 2026 sendiri tampil dengan skala terbesarnya hingga saat ini. Dengan 85 persen representasi dari kawasan Asia Pasifik dan 30 persen dari Hong Kong, pameran ini mempertegas posisinya sebagai platform seni kontemporer terdepan di Asia.

Dari sisi kuratorial, sektor Central Stage yang hadir perdana tahun ini turut menyertakan seniman Indonesia, Arahmaiani, sebagai salah satu dari enam seniman terpilih yang mendapat sorotan khusus.

Seniman asal Yogyakarta itu dikenal sebagai salah satu tokoh penting seni kontemporer Indonesia, dengan praktik seni yang telah menyuarakan isu politik, ketimpangan gender, dan komodifikasi budaya sejak era 1980-an.

Sumber