Goresan kuasnya sering mejeng di pameran dan galeri seni luar negeri. Siapa sangka bila sang seniman adalah mantan buruh mesin yang terkena PHK. Momentum hidup yang justru mengantarnya ke pencapaian luar biasa.
Wahyudi Purnawan menjalani rutinitas paginya seperti halnya para ayah lain. Bertolak dari rumahnya, di Dusun Padangan, Desa Pagu, Kecamatan Pagu, mengantar sang buah hati ke sekolah. Baru, setelah itu, dia ganti menghadapi ‘hidupnya’ yang lain. Mengubah kanvas besar, ukuran 2x1 meter, menjadi karya seni bernilai tinggi. Memadukan cat-cat akrilik beragam warna menjadi lukisan yang indah.
Menariknya, jalur sebagai seniman lukis tak dia lakoni sejak awal. Melainkan momentum titik balik ketika dia sempat ada di fase nadhir. Awalnya dia adalah karyawan pabrik kopi. Menghabiskan hari-harinya mengecek mesin di salah satu pabrik di Surabaya.
"Dulu sekolah dan karier saya di bidang mesin. Sama sekali tidak ada background pendidikan seni," ucap pria yang juga dipanggil Gandoel Mustakaweni ini membuka percakapan.
Bakat terpendam sebagai pelukis sebenarnya sudah ada sejak kecil. Saat ia sering mewakili sekolah dalam lomba menggambar hingga tingkat kabupaten. Namun, realita hidup membawanya ke dunia permesinan.
Baru pada 2018, ia iseng mencoba menggambar sketsa wajah ibu dan istrinya menggunakan pensil. Tak disangka, unggahannya di Facebook mendapat respons positif dari warganet. Pesanan dari kawan dekat pun mulai berdatangan. Saat itu, ia menjadikan melukis sketsa sebagai sampingan dengan harga mulai Rp 25 ribu hingga ratusan ribu rupiah.
Ia ingat seorang senior seni pernah memberinya wejangan yang terus terngiang. "Di depanmu ada gunung emas, tinggal kamu mau mendaki dan menggali atau tidak. Kamu punya potensi. Dia bilang begitu,” lanjutnya.
Saat itu Gandoel ragu. Ia memiliki anak dan istri yang harus dinafkahi dengan gaji tetap dari perusahaan. Takdir akhirnya menjawab keraguan itu lewat cara yang pahit. Pandemi Covid-19 datang, dan Gandoel menjadi satu dari sekian banyak orang yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Sudah lamar ke mana-mana tapi semua perusahaan sedang melakukan pengurangan. Saya sempat bertahan enam bulan di Surabaya, sebelum akhirnya memutuskan pulang kampung ke Kediri," kenangnya.
Momen "menganggur" itulah yang ia jadikan batu loncatan. Ia bergabung dengan komunitas Berani Belajar Melukis. Di sana, ia banyak belajar dan mengikuti berbagai ajang hingga salah satu karyanya berhasil terjual. Setelah itu, ia bertemu dengan seniman asal Kediri, Ruslan, pemilik Sanggar Kampung Lukis Ruslan. Di sanalah ia mengasah instingnya. Dari yang awalnya hanya berani bermain pensil di atas kertas, kini ia naik kelas menggunakan cat akrilik di atas kanvas. Ia bahkan sempat menjadi pengajar di sanggar tersebut.
Sumber