MALANG – Keberhasilan membawa 34 seniman Indonesia tampil di ARTe Kunstmesse Wiesbaden 2026 tidak membuat Niluh Swati langsung melakukan ekspansi. Sebaliknya, hasil pameran di Jerman menjadi momentum untuk melakukan evaluasi sebelum menentukan langkah berikutnya.
Niluh mengatakan, sejumlah peluang kerja sama mulai terbuka setelah karya seniman Indonesia diperkenalkan di Jerman. Ketertarikan datang dari berbagai pihak yang berkaitan dengan art/trade fair di Indonesia, India, dan Malaysia.
Selain itu, terdapat pula peluang pembicaraan dengan jaringan kolektor dan pelaku seni internasional. Dalam waktu dekat, Niluh dijadwalkan bertemu salah satu kolektor lamanya di Switzerland. Kolektor tersebut merupakan profesor seni di India dan pertemuan itu akan membahas kemungkinan kerja sama lebih lanjut.
Meski peluang mulai bermunculan, Niluh memilih tidak terburu-buru memperluas program.
"Model bisnis Niluh Swati akan kami kaji kembali secara serius bersama tenaga ahli, termasuk melakukan evaluasi dan technical due diligence, agar program ini dapat berkembang dengan struktur yang sehat dan berkelanjutan," kata Niluh.
Evaluasi akan dilakukan terhadap sejumlah aspek, mulai dari kualitas dan kesiapan karya, administrasi, dokumentasi, hingga standar yang diperlukan ketika karya seniman Indonesia dibawa ke pasar internasional.
Bagi Niluh, keberhasilan satu pameran tidak boleh membuat program berhenti belajar. Jika masih terdapat kekurangan, hal tersebut harus diakui dan diperbaiki.
"Kalau masih ada kekurangan, kami harus berani mengakuinya, memperbaikinya, dan terus belajar. Program ini tidak boleh berhenti berkembang hanya karena satu pameran berhasil," ujarnya.
Lebih jauh, Niluh melihat pengembangan pasar seni Indonesia di luar negeri bukan sebagai kompetisi antarperupa. Justru, program yang dibangunnya diarahkan untuk menciptakan ruang bersama agar semakin banyak seniman Indonesia mendapatkan kesempatan tampil dan berkembang.
"Bagi Niluh Swati, membawa seniman Indonesia ke Eropa bukan tentang menciptakan kompetisi di antara sesama seniman Indonesia. Justru kami ingin membangun ekosistem di mana para seniman dapat tumbuh dan mendapatkan kesempatan bersama," katanya.
Prinsip tersebut kemudian dirangkum dalam satu kalimat yang menjadi semangat program Niluh Swati:
"Seniman Indonesia BERSANDING, bukan BERTANDING." Prinsip itu pula yang ingin terus dibawa dalam pengembangan program berikutnya.
Sebelumnya diberitakan bahwa 11 karya seniman Indonesia terjual dalam pameran internasional di Jerman itu. Keberhasilan NSIAP dalam membawa 34 perupa Indonesia ke ARTe Kunstmesse Wiesbaden 2026 menjadi pijakan penting bagi NSIAP untuk melanjutkan upaya memperluas ruang bagi perupa Indonesia di panggung internasional.
Dengan penjualan karya, munculnya minat dari kolektor dan pelaku seni, serta terbukanya peluang kerja sama lanjutan, pameran tersebut menunjukkan bahwa karya perupa Indonesia memiliki peluang untuk diterima dalam ekosistem seni global.
Bagi Niluh Swati, capaian itu bukan akhir, melainkan awal untuk membangun jalur yang lebih berkelanjutan bagi seniman Indonesia agar dapat bersanding di pasar seni internasional. (*)
Sumber