Finalis Duta Wisata Pati Manggung dalam Ajang ASEAN di Filipina

PATI, muria.suaramerdeka.com - Kiprah dalam kancah internasional ditunjukkan salah satu mahasiswa berbakat asal Pati.

Finalis Mbak Duta Wisata Pati Sendanatasa Kunthi Febiyani (21) manggung di Filipina pada 5-10 Agustus. Dia membawakan seni tari dalam ajang Best of ASEAN Performing Arts (BOAPA) 2026.

Gadis yang akrab disapa Tasa, secara khusus ditunjuk Kementerian Kebudayaan mewakili Indonesia dalam kegiatan seni pertunjukan se-Asia Tenggara itu.

Ajang tersebut sekaligus mempertemukan seniman dan delegasi dari negara-negara ASEAN.

Di panggung BOAPA mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini tampil dalam performance karya rupa. Dia bersama seorang rekannya mengusung tema feminisme.

"Saya tampil membawakan karya rupa tentang sisi manusia. Manusia hidup di ambang batas citra dan kebenaran. Menguak dualisme feminisme pada tubuh perempuan melalui media pengkarakteran topeng dan ragam gerak tari putri gaya Surakarta," ujar Tasa, Rabu (23/9).

Selain tampil tersendiri mewakili Indonesia, dia bersama rekannya juga berkesempatan untuk manggung bersama dengan seluruh perwakilan negara dalam satu karya pertunjukan.

Kolaborasi seluruh delegasi ASEAN berupa Rama Hari Ballet Opera.

Tasa mengemukakan, tampil di panggung kesenian level ASEAN merupakan kesempatan berharga. Dia mengaku dapat berkontribusi bagi bangsa dan negaranya, sekaligus mendapat banyak pengalaman.

"Sangat bersyukur karena saya juga bisa mengembangkan kapasitas di bidang seni pertunjukan. Termasuk mendapat banyak pemahaman tentang keberagaman budaya di kawasan ASEAN," katanya.

Baca Juga: Jabatan Kepala BKD Kosong Usai Ditinggal Mardi, Wabup Rembang: Bocorannya yang Sekiranya Agak Nganggur

Di luar itu, putri pasangan Budiono dan Suryani ini mengaku mendapat banyak teman baru dari berbagai negara. Itu lantaran selama BOAPA berlangsung terjalin interaksi dan jejaring antarseniman melalui proses kreatif bersama.

Secara khusus, Tasa juga mengenalkan budaya dan kuliner Indonesia di ajang Asia Tenggara tersebut. Termasuk budaya dan makanan khas Pati, yang merupakan kota asalnya.

Tampil di luar negeri bukan pengalaman pertama bagi putri sulung pendiri Sanggar Seni Paringga Jati Raras (Sang Pajar) Pati ini.

Tahun lalu, dia tampil di Singapura dalam ajang Workshop Kultural Seni dan Performance The Missing Sinta. Kala itu, juga dilakukan penandatangan MoU ISI Surakarta dengan Republic Polythecnic and Sanggar Sri Warisan.

Sumber