Sultan Musa, Penyair Samarinda yang Menembus Panggung Seni Internasional

SAMARINDA – Sultan Musa, penyair muda asal Samarinda, Kalimantan Timur, menapaki perjalanan sastra yang perlahan namun pasti meluas hingga lintas negara. Pada Oktober 2025, beberapa karya puisinya terbit dalam The Hechyeomoyeo Art Magazine, sebuah majalah seni internasional yang berawal dari Korea Selatan dan kini berbasis di New York. Karya-karya tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan menjadi bagian dari edisi khusus yang menampilkan seniman dari berbagai belahan dunia.

Majalah The Hechyeomoyeo Art Magazine dikenal sebagai wadah yang menghubungkan para seniman lintas disiplin dari berbagai negara. Komunitas ini berdiri di Korea Selatan dengan semangat mempertemukan manusia melalui seni dan menciptakan ruang kolaborasi global.

Keanggotaannya mencakup seniman dari Korea Selatan, Indonesia, Amerika Serikat, Thailand, hingga Jepang. Pada Oktober 2025, mereka baru saja menutup pameran di The Living Gallery, 1094 Broadway, Brooklyn, New York, yang menampilkan karya pilihan dari jaringan seniman dan penulis yang terlibat di dalamnya, termasuk karya puisi Sultan Musa.

Sejumlah karya puisi Sultan Musa diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan dipublikasikan di The Hechyeomoyeo Art Magazine edisi 2025.

Keterlibatan Sultan dalam publikasi tersebut mempertegas kiprahnya di ranah internasional. Sebelum dikenal lewat The Hechyeomoyeo Art Magazine, karyanya lebih dahulu diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia melalui Majalah Tunas Cipta tahun 2024. Pada tahun yang sama, salah satu puisinya juga terpilih dalam ajang Challenge “Heart and Art for Change” di Collegno Fol Festival 2024, Torino, Italia. Karya itu diterjemahkan ke dalam bahasa Italia dan menjadi bagian dari agenda seni yang menyoroti peran sastra dalam gerakan sosial dan kemanusiaan.

Capaian tersebut menegaskan posisi Sultan sebagai penyair muda yang mampu membawa nuansa lokal Kalimantan Timur ke ruang dialog global. Puisinya banyak bersandar pada pengalaman keseharian dan lanskap Samarinda yang menjadi latar tempat tumbuhnya. Sungai Mahakam, jalanan yang tenang, serta perubahan sosial yang mengitari daerahnya menjadi sumber pengamatan dan renungan yang kemudian terjalin menjadi larik-larik puitis. Kepekaannya terhadap ruang dan waktu tercermin dalam cara ia membangun suasana; sederhana namun dalam, lirih namun tajam.

Komunitas seni internasional Hechyeomoyeo yang menjadi wadah bagi seniman dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Selain publikasi luar negeri, Sultan juga aktif di ranah nasional. Tahun 2025, karyanya lolos kurasi dan dipamerkan dalam Kalang Exhibition, sebuah pameran yang diinisiasi Triaksara Pengairan di Malang, Jawa Timur. Kegiatan tersebut mempertemukan karya para seniman muda Indonesia lintas medium, dari puisi hingga seni rupa, dan memperlihatkan keberanian Sultan menjembatani kata dengan ruang visual.

Meski kini dikenal di berbagai forum internasional, identitasnya tetap berpijak kuat pada tanah kelahiran. Ia membangun karya dari ketenangan daerahnya dan mengolahnya menjadi refleksi universal tentang manusia dan kehidupan. Dari Samarinda, ia menulis tentang waktu yang bergerak lambat, tentang kesunyian yang menyimpan makna, dan tentang harapan yang terus tumbuh bahkan di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota besar.

Perjalanan Sultan Musa menggambarkan bahwa pencapaian sastra tidak hanya lahir dari pusat kebudayaan besar, tetapi juga dapat tumbuh dari tepi sungai yang mengalir tenang di Kalimantan Timur. Puisinya menembus batas bahasa dan geografis, memperlihatkan bahwa kata dapat menjadi jembatan antara ruang yang kecil dan dunia yang luas. Melalui karya-karya itu, namanya perlahan menjadi bagian dari percakapan global tentang seni dan kemanusiaan.

Kini, setiap karyanya dibaca sebagai bentuk perjalanan yang berkelanjutan sebuah penjelajahan batin dan ruang yang terus mencari makna. Dari tepian Mahakam, Sultan Musa menulis, dan dari sana pula puisinya berangkat, menjelajah dunia tanpa pernah kehilangan jejak tanah asalnya.

Sumber