Di tengah dinginnya musim gugur di Belanda, Pasar Raya Nusantara yang digelar KBRI Indonesia menjadi tempat berkumpulnya diaspora Indonesia dan warga Belanda. Acara ini menawarkan berbagai makanan khas Indonesia dan menjadi ajang interaksi budaya yang menarik, dengan warga Belanda yang antusias belajar tentang kuliner dan filosofi di balik makanan Indonesia.
Ketika angin musim gugur terasa makin dingin, semerbak aroma sate dan rendang keluar dari aula besar di kawasan Rijswijk, kota tetangga Den Haag, Belanda . Akhir Oktober 2025 lalu, di aula itu berlangsung Pasar Raya Nusantara yang digelar Kedutaan Besar Republik Indonesia Indonesia.
Saya dan juga diaspora Indonesia lainnya di Belanda sangat menantikan acara seperti ini. Kami menyebutnya Pasar Malam. Selain karena digelar sore hingga malam, suasananya memang seperti pasar malam pada umumnya di Indonesia, lengkap dengan tenda-tenda makanan. Sejak awal musim gugur hingga akhir musim dingin, acara serupa banyak digelar oleh beragam komunitas di berbagai kota di Belanda. Wajar saja, diaspora Indonesia, atau siapa pun yang memiliki keterkaitan dengan Indonesia, hampir berada di semua sudut ”Negeri Kincir Angin” ini. Sajian utama setiap pasar malam tentu adalah makanan. Dan ini adalah yang paling dicari pengunjung. Makanan khas dari setiap daerah di Indonesia dengan mudah dapat ditemui. Panganan lain seperti klepon, martabak, hingga kue lapis juga tampak. Ada hal menarik yang selalu saya amati di setiap pasar malam. Selalu ada saja warga asli Belanda yang datang di setiap pasar malam ini. Mereka tentu saja datang untuk mencicipi makanan. Namun, di balik itu, saya kerap mendengar percakapan antara pembeli dan penjual. Warga Belanda sepertinya tak puas jika hanya mencicipi makanan. Mereka juga bertanya bahan-bahannya, cara membuatnya, daerah asal makanannya, hingga filosofi di balik makanan itu. Percakapan ini juga muncul antara sesama pengunjung ketika berada di meja makan yang sama. Saya yang mendapat pertanyaan seperti itu, tentu tak elok jika menjawab ’tak tahu’. Bagaimana mungkin, seorang yang berasal dari Indonesia tidak mengenal makanan dari negaranya. Saat itulah saya merasa pentingnya benar-benar mengenal Tanah Air sendiri.Ketika kalori berlimpah, seperti dari minuman berpemanis dalam kemasan, tapi tak diiringi protein, serat, dan mikronutrien penting, tubuh menjadi besar, tapi rapuh.yang juga penulis kuliner terkenal. Menurutnya, makanan memang menjadi pintu awal untuk mengenal sebuah wilayah atau negara. Hal ini yang menjadi dasar gagasan gastrodiplomasi, diplomasi budaya yang menggunakan makanan dan kuliner sebagai media untuk membangun citra, mempererat hubungan antarnegara, hingga memperkenalkan identitas nasional di tingkat global.lalu menggunakannya dalam publikasi-publikasi ilmiah sejak 2012. Jalan paling efektif untuk menyentuh hati dan pikiran seseorang adalah melalui makanan . Diplomasi macam ini memang lebih menyentuh. Juga lebih terasa pada hubungan orang per orang. Pengusaha makanan dan diaspora Indonesia menjadi ’diplomat’ sekaligusIndonesia Spice Up the World diluncurkan pada 2021. Targetnya, meningkatkan jumlah restoran Indonesia di luar negeri hingga 4.000 unit, serta memperluas ekspor bumbu dan produk pangan olahan ke berbagai negara.dan menjadi pintu bagi dunia luar untuk mengenal Indonesia. Jika pintu sudah terbuka, efek domino lain berupa kerjasama ekonomi, pendidikan, hingga budaya terbuka lebar. Menggunakan pangan sebagai alat diplomasi sebenarnya membawa tanggung jawab dan konsekuensi besar. Sebagaimana alat yang digunakan untuk tujuan penting, tentu alat ini harus baik, benar, dan berkualitas. Pengetahuan semua pihak terhadap alat ini juga harus mumpuni. Saya sebenarnya tidak khawatir dengan daya tarik kuliner Nusantara. Untuk urusan rasa, kuliner Nusantara sudah mendapat tempat sendiri di masyarakat internasional, setidaknya itu yang saya alami sendiri di Belanda. Makanan Indonesia selalu ditunggu dan dicari.Lantas, apakah kita harus berpuas diri? Tentu tidak. Justru, reputasi istimewa makanan Indonesia menjadi pengingat bahwa di balik setiap hidangan yang kita banggakan, ada rantai panjang dan aspek yang harus dijaga. Indonesia punya rasa, masyarakat internasional punya standar. Maknanya, makanan yang disajikan ke dunia perlu mencerminkan standar dan keamanan. Keberlanjutan sistem pangan yang menyertainya juga perlu jelas dan transparan. Bagian ini tentu bukan tugas diplomat semata.dalam studinya mengingatkan, gastrodiplomasi kini mulai dikaitkan dengan isu ketahanan pangan dan kualitas pangan. Studi tersebut menjadi pengingat betapa makanan yang kita promosikan ke dunia juga harus aman, bermutu, dan berkelanjutan.Dalam kesempatan berbeda, ketika berbincang dengan kolega warga Belanda, saya juga kerap mendapat pertanyaan mengenai isu terkini keracunan pangan yang terjadi di Indonesia. Wajar saja, berita kejadian yang menimpa anak sekolah ini beberapa kali tayang di televisi Belanda. Peristiwa keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis menjadi hal yang ironis di tengah gencarnya gastrodiplomasi. Presiden Prabowo Subianto menyebut tingkat keberhasilan program mencapai 99,99 persen, dengan hanya 0,005 persen kasus keracunan dari jutaan penerima manfaat.Perluasan program yang dilakukan harus disertai upaya maksimal menjamin keamanan pangan yang dikonsumsi agar hasilnya sesuai dengan yang kita harapkan.Meski demikian, persentase kasus yang kecil bukan berarti kejadian keracunan ini tidak penting. Ini merupakan kesempatan untuk menjadikan keamanan pangan sebagai prioritas utama dalam penyediaan pangan, di samping aspek produksi yang selama ini menjadi target. Perjuangan gastrodiplomasi Indonesia di berbagai belahan dunia perlu didukung oleh perbaikan tata kelola pangan di dalam negeri. Reputasi positif makanan Nusantara di luar negeri perlu dipertahankan. Insiden kontraproduktif di dalam negeri tentu dapat mengganggu reputasi ini.Ensuring safe food involves more than washing hands or cooking food to higher temperatures, it involves politics. Hal ini menunjukkan keamanan pangan perlu kebijakan holistik. Keberhasilan gastrodiplomasi Indonesia tidak hanya diukur dari berapa banyak restoran atau menu Nusantara yang dikenal di dunia. Dunia juga perlu tahu bahwa makanan Indonesia aman, berkualitas, dan mencerminkan nilai-nilai keberlanjutan. Untuk konteks negara-negara Barat, khususnya di Benua Eropa, penting untuk memastikan bahwa pangan yang masuk wilayahnya berasal dari rantai produksi tidak merusak lingkungan, memberi manfaat ekonomi bagi petani kecil, hingga tidak melanggar kesejahteraan hewan ternak. Ketika saya antusias menjawab pertanyaan kolega Belanda mengenai bagaimana rendang itu dibuat, saya sedikit cemas menunggu pertanyaan berikutnya yang mungkin menyinggung mengenai maraknya kejadian keracunan di Indonesia. Dua hal itu memang tidak berhubungan langsung, tetapi penjelasannya tidak mudah.Indonesia tentu akan lebih baik pula, yaitu sebagai negara dengan cita rasa yang kaya, sistem pangan yang aman, dan etika produksi pangan yang bertanggung jawab. SemogaPeneliti; Mahasiswa Doktoral Wageningen University, Belanda; Petugas belajar Badan Riset dan Inovasi Nasional Saya dan juga diaspora Indonesia lainnya di Belanda sangat menantikan acara seperti ini. Kami menyebutnya Pasar Malam. Selain karena digelar sore hingga malam, suasananya memang seperti pasar malam pada umumnya di Indonesia, lengkap dengan tenda-tenda makanan. Sejak awal musim gugur hingga akhir musim dingin, acara serupa banyak digelar oleh beragam komunitas di berbagai kota di Belanda. Wajar saja, diaspora Indonesia, atau siapa pun yang memiliki keterkaitan dengan Indonesia, hampir berada di semua sudut ”Negeri Kincir Angin” ini. Sajian utama setiap pasar malam tentu adalah makanan. Dan ini adalah yang paling dicari pengunjung. Makanan khas dari setiap daerah di Indonesia dengan mudah dapat ditemui. Panganan lain seperti klepon, martabak, hingga kue lapis juga tampak. Ada hal menarik yang selalu saya amati di setiap pasar malam. Selalu ada saja warga asli Belanda yang datang di setiap pasar malam ini. Mereka tentu saja datang untuk mencicipi makanan. Namun, di balik itu, saya kerap mendengar percakapan antara pembeli dan penjual. Warga Belanda sepertinya tak puas jika hanya mencicipi makanan. Mereka juga bertanya bahan-bahannya, cara membuatnya, daerah asal makanannya, hingga filosofi di balik makanan itu. Percakapan ini juga muncul antara sesama pengunjung ketika berada di meja makan yang sama. Saya yang mendapat pertanyaan seperti itu, tentu tak elok jika menjawab ’tak tahu’. Bagaimana mungkin, seorang yang berasal dari Indonesia tidak mengenal makanan dari negaranya. Saat itulah saya merasa pentingnya benar-benar mengenal Tanah Air sendiri.Ketika kalori berlimpah, seperti dari minuman berpemanis dalam kemasan, tapi tak diiringi protein, serat, dan mikronutrien penting, tubuh menjadi besar, tapi rapuh.yang juga penulis kuliner terkenal. Menurutnya, makanan memang menjadi pintu awal untuk mengenal sebuah wilayah atau negara. Hal ini yang menjadi dasar gagasan gastrodiplomasi, diplomasi budaya yang menggunakan makanan dan kuliner sebagai media untuk membangun citra, mempererat hubungan antarnegara, hingga memperkenalkan identitas nasional di tingkat global.lalu menggunakannya dalam publikasi-publikasi ilmiah sejak 2012. Jalan paling efektif untuk menyentuh hati dan pikiran seseorang adalah melalui makanan . Diplomasi macam ini memang lebih menyentuh. Juga lebih terasa pada hubungan orang per orang. Pengusaha makanan dan diaspora Indonesia menjadi ’diplomat’ sekaligusIndonesia Spice Up the World diluncurkan pada 2021. Targetnya, meningkatkan jumlah restoran Indonesia di luar negeri hingga 4.000 unit, serta memperluas ekspor bumbu dan produk pangan olahan ke berbagai negara.dan menjadi pintu bagi dunia luar untuk mengenal Indonesia. Jika pintu sudah terbuka, efek domino lain berupa kerjasama ekonomi, pendidikan, hingga budaya terbuka lebar. Menggunakan pangan sebagai alat diplomasi sebenarnya membawa tanggung jawab dan konsekuensi besar. Sebagaimana alat yang digunakan untuk tujuan penting, tentu alat ini harus baik, benar, dan berkualitas. Pengetahuan semua pihak terhadap alat ini juga harus mumpuni. Saya sebenarnya tidak khawatir dengan daya tarik kuliner Nusantara. Untuk urusan rasa, kuliner Nusantara sudah mendapat tempat sendiri di masyarakat internasional, setidaknya itu yang saya alami sendiri di Belanda. Makanan Indonesia selalu ditunggu dan dicari.Lantas, apakah kita harus berpuas diri? Tentu tidak. Justru, reputasi istimewa makanan Indonesia menjadi pengingat bahwa di balik setiap hidangan yang kita banggakan, ada rantai panjang dan aspek yang harus dijaga. Indonesia punya rasa, masyarakat internasional punya standar. Maknanya, makanan yang disajikan ke dunia perlu mencerminkan standar dan keamanan. Keberlanjutan sistem pangan yang menyertainya juga perlu jelas dan transparan. Bagian ini tentu bukan tugas diplomat semata.dalam studinya mengingatkan, gastrodiplomasi kini mulai dikaitkan dengan isu ketahanan pangan dan kualitas pangan. Studi tersebut menjadi pengingat betapa makanan yang kita promosikan ke dunia juga harus aman, bermutu, dan berkelanjutan.Dalam kesempatan berbeda, ketika berbincang dengan kolega warga Belanda, saya juga kerap mendapat pertanyaan mengenai isu terkini keracunan pangan yang terjadi di Indonesia. Wajar saja, berita kejadian yang menimpa anak sekolah ini beberapa kali tayang di televisi Belanda. Peristiwa keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis menjadi hal yang ironis di tengah gencarnya gastrodiplomasi. Presiden Prabowo Subianto menyebut tingkat keberhasilan program mencapai 99,99 persen, dengan hanya 0,005 persen kasus keracunan dari jutaan penerima manfaat.Perluasan program yang dilakukan harus disertai upaya maksimal menjamin keamanan pangan yang dikonsumsi agar hasilnya sesuai dengan yang kita harapkan.Meski demikian, persentase kasus yang kecil bukan berarti kejadian keracunan ini tidak penting. Ini merupakan kesempatan untuk menjadikan keamanan pangan sebagai prioritas utama dalam penyediaan pangan, di samping aspek produksi yang selama ini menjadi target. Perjuangan gastrodiplomasi Indonesia di berbagai belahan dunia perlu didukung oleh perbaikan tata kelola pangan di dalam negeri. Reputasi positif makanan Nusantara di luar negeri perlu dipertahankan. Insiden kontraproduktif di dalam negeri tentu dapat mengganggu reputasi ini.Ensuring safe food involves more than washing hands or cooking food to higher temperatures, it involves politics. Hal ini menunjukkan keamanan pangan perlu kebijakan holistik. Keberhasilan gastrodiplomasi Indonesia tidak hanya diukur dari berapa banyak restoran atau menu Nusantara yang dikenal di dunia. Dunia juga perlu tahu bahwa makanan Indonesia aman, berkualitas, dan mencerminkan nilai-nilai keberlanjutan. Untuk konteks negara-negara Barat, khususnya di Benua Eropa, penting untuk memastikan bahwa pangan yang masuk wilayahnya berasal dari rantai produksi tidak merusak lingkungan, memberi manfaat ekonomi bagi petani kecil, hingga tidak melanggar kesejahteraan hewan ternak. Ketika saya antusias menjawab pertanyaan kolega Belanda mengenai bagaimana rendang itu dibuat, saya sedikit cemas menunggu pertanyaan berikutnya yang mungkin menyinggung mengenai maraknya kejadian keracunan di Indonesia. Dua hal itu memang tidak berhubungan langsung, tetapi penjelasannya tidak mudah.Indonesia tentu akan lebih baik pula, yaitu sebagai negara dengan cita rasa yang kaya, sistem pangan yang aman, dan etika produksi pangan yang bertanggung jawab. Semoga
Sumber