hariansuara.com - Masyarakat Afrika Selatan, terkhusus yang bermukim di Cape Town kini semakin mengenal Indonesia lewat kuliner. Setidaknya itulah buah yang diikhtiarkan Frieda Olivia Adriaensen, empunya usaha kuliner dengan brand Bali Food Truck, dan juga Boemboe Tempeh. Dengan tekun, ia menyuguhkan menu Dapur Indonesia hingga mendapat tempat khusus di hati masyarakat setempat.
"Alhamdulillah, brand Bali Food Truck mulai dikenal publik di Cape Town dan sekitarnya. Ini mobile caterer pertama yang mempromosikan makanan Indonesia. Tiap kali mengikuti event di mana pun jadi salah satu stand favorit, dan jualannya laris manis," ujar Frieda, riang, kepada hariansuara.com. "Sekarang kami juga menerima banyak tawaran dari para organizer untuk berpartisipasi di berbagai events, dan juga permintaan untuk private catering."

Frieda adalah Sarjana Akuntansi kelahiran Surabaya, 16 Oktober 1979. Tak pernah disangkanya kalau kini ia justru bersemangat jadi enterpreneur kuliner di negeri orang.
Selulus kuliah, katanya, ia langsung bekerja di perusahaan konsultan keuangan dan bisnis di Jakarta. Kemudian pada 31 Agustus 2007, ia tinggalkan karir yang tengah maju-majunya kala itu untuk ikut suami, warga negara Afrika Selatan, pindah ke Cape Town. Namun, pernikahannya kandas di usia sembilan tahun.
Dua tahun kemudian, Tuhan mempertemukan Frieda dengan jodohnya, pengusaha berdarah Belgia bernama Gino Adriaensen di Cape Town, Afrika Selatan. Ia tetap 'ngantor' di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Cape Town sebagai local staff.

Sama sekali Frieda tak terpikir dirinya akan buka usaha, meski suaminya tercinta sejak belia sudah terjun di bisnis kuliner. Keluarganya adalah pengusaha bakery, dan memproduksi Wicked Waffle serta berbagai waffle tradisional khas Belgia.
Awalnya Ikut Jualan Diajak Teman
Terjunnya Frieda sebagai enterpreneur secara tidak sengaja. "Mula-mula hanya iseng diajak teman Warga Negara Indonesia (WNI) di Cape Town, ikut berjualan makanan Indonesia di salah satu Food & Craft Market terkenal di sana," tutur Frieda, riang.
"Tepatnya mulai 2013, saya mengikuti market itu, sebulan sekali pada akhir pekan. Jadi, tidak mengganggu aktivitas profesional saya sebagai local staff di KJRI Cape Town. Usaha kami waktu itu bernama 'Waroeng Batavia, Indonesian Cuisines'".

Namun, seiring berjalannya waktu, satu per satu teman WNI-nya mundur, dan beberapa teman kembali ke Tanah Air. Tinggal Frieda yang bertahan. Pehobi adventure di alam dan berkebun itu terus berjualan. Ia merasa enjoy memasak, dan senang sekali bisa berinteraksi dengan pelanggan. Apalagi jika konsumen memuji masakannya, lalu menjadi pelanggan tetap kuliner olahannya. Ia gembira sekali.
Sementara itu Frieda menganalisa situasi. Dilihatnya di Cape Town waktu itu belum ada rumah makan Indonesia. Padahal Indonesia punya jalinan historis yang kuat dengan Afrika Selatan, terutama Cape Town. Diketahui, ada komunitas Cape Malay yang tinggal di sana.
"Ini kesempatan untuk makin mengenalkan makanan Indonesia kepada masyarakat Cape Town. Inginnya tak hanya memperkenalkan ke komunitas Cape Malay saja, tapi bisa menjangkau seluruh masyarakat di Afrika Selatan," imbuh Frieda, yang kemudian berpikir untuk total menekuni usaha kulinernya.
Fokus di Satu Titik
Sampai akhirnya pada 9 Oktober 2022, Frieda mengambil lompatan besar dalam hidupnya. Ia memutuskan resign dari pekerjaannya di KJRI untuk fokus menekuni usaha kuliner rintisannya. Pikirnya, jika ingin lebih berkembang, ya harus fokus sepenuhnya di satu titik. Dengan begitu, tenaga, energi dan pikiran bisa tercurahkan secara maksimal. Pilihan Frieda sudah mantap, yakni mengembangkan usaha kulinernya dengan brand Bali Food Truck.

Frieda yang terbiasa bekerja sistematis itu pun menyiapkan segala sesuatunya. Mulai dari mengurus perizinan, mempelajari pasar (market), memahami kesukaan masyarakat lokal (customer behaviour), customer service, branding and marketing, dan masih banyak lagi. Prinsipnya, tiada hari tanpa belajar. Ia lalu ikut berjualan dari satu ke lain market sambil memperdalam pemahamannya. Termasuk memberanikan diri membeli sebuah food truck pada 2016 dari uang tabungannya.
Hematnya, beroperasi dengan food truck akan mempermudah usahanya di banyak hal, termasuk menerima order private event. Benar saja, keputusan yang tepat. Dengan food truck yang dinamai 'Bali Food Truck' itu membuat kiprahnya lebih mobile dan total mempromosikan makanan Indonesia di Cape Town.
Ia pun makin eksploratif di bidang kuliner, yakni membuat tempe atau tempeh agar bisa go public di sana seperti halnya tofu atau tahu.

Sebenarnya di Cape Town sudah ada toko menjual tempe. Tetapi cita rasanya berbeda dari tempe asal Indonesia. Karena itu, Frieda bertekad belajar membuat tempe sendiri. Tidak semudah perkiraannya. Puluhan kali gagal, sampai akhirnya ketemu metode yang pas. Produksi tempe berhasil dan dipasarkan dengan brand Boemboe Tempeh ke restoran dan health shops.
Terus Ikhtiar untuk Bertumbuh
Membangun usaha kuliner di negeri orang, diakui Frieda, sangat banyak tantangannya. "Jatuh bangun tak terhitung, mulai dari membangun brand, proses belajar yang tidak boleh berhenti, harus beradaptasi dengan banyaknya disrupsi dan perubahan zaman. Kuncinya, belajar dari pengalaman, punya niat dan tujuan yang kuat, disiplin, persistent dan konsisten di segala keadaan," ujar Frieda berbagi tip sukses usaha.
"Satu trik yang tak kalah pentingnya adalah selektif dalam memilih public events. Jadi, begitu Bali Food Truck hadir, seringkali kuliner kami segera sold out, karena publik penasaran untuk mencobanya. Plus, kami tidak lupa melayani pembeli dengan Indonesian hospitality, keramahtamahan."
Bali Food Truck dan Boemboe Tempeh pun kian eksis di Cape Town. Menurut Frieda, ini semua tak lepas dari doa orang tua dan keluarga, terutama suami tercinta yang baginya adalah pendukung utama, sekaligus guru tempatnya belajar bisnis kuliner.

"Maklum, saya 'kan corporate girl banget. Tak pernah berwiraswasta sama sekali. Alhamdulillah, passion kami sama di kuliner, jadi bisa saling mendukung. Kami padukan keahlian suami di bidang perencanaan, sales dan logistik, dan saya support dalam hal marketing, keuangan dan administrasi," tambah Frieda, yang kian mantap berikhtiar agar usaha kulinernya terus bertumbuh.
Lewat racikan bumbu dan olahan Frieda, kuliner Indonesia makin dikenal di tengah masyarakat Cape Town, Afrika Selatan. Untuk tempe, imbuh Frieda, ada catatan tersendiri. "Perlu ikhtiar lebih mengenalkan tempe, sebab mayoritas penduduk Afsel penggemar berat daging, yang tentu sangat sulit mengubah kebiasaan tersebut," katanya, lagi.
Dicarilah akal untuk mengenalkan tempe yang sejatinya salah satu superfood yang berkhasiat bagi kesehatan dan bercita rasa lezat. Saat berjualan dengan Bali Food Truck kesayangan, Frieda yang kreatif itu menyelipkan olahan tempe di masakannya agar bisa dicicipi pembeli, baik berupa keripik atau olahan menu tempe dengan resep lokal.
Perlahan, tempe pun cukup dikenal, dan mulai diminati. Bahkan kini masyarakat vegetarian yang meningkat jumlahnya itu pun mulai memasukkan tempe di menu diet mereka sebagai sumber protein alternatif andalan.
Ajak Kaum Perempuan Berwiraswasta
Kini Frieda telah merasakan manisnya buah perjuangan sebagai wiraswasta kuliner. Selain finansial, ia juga merasakan kepuasan tersendiri ketika publik mengapresiasi masakan olahannya, lalu bertambah banyak kenalan dan meluasnya jejaring di Afrika Selatan.
Ke depan, Frieda mengaku, bersama suami akan mengembangkan bisnis mereka, yang ibaratnya adalah 'anak-anak' terkasih mereka. Frieda juga tetap bersemangat akan terus mengenalkan kuliner Indonesia.
"Saya sudah memiliki Izin Tinggal Tetap, Permanent Residence, di Afsel. Tak terasa sudah 18 tahun saya menetap di Cape Town. Namun, saya tetap cinta Indonesia, dan masih berstatus WNI lo," tambahnya, sambil menyemangati kaum wanita di Indonesia agar berani berwiraswasta.
"Pilih bidang usaha yang disukai agar hasilnya bisa luar biasa. Wanita harus independen di segala hal, berani ambil risiko, tapi tetap dengan perhitungan yang mantap agar risiko bisa terukur. Kuasai IT, karena sekarang eranya digital. Prinsipnya, terus belajar, inovatif dan fokus. Gagal tak apa, tapi harus segera bangkit, dan terus maju." (*) Annisa QA/MTS Foto: Dok Pri
Sumber