Permintaan Global Naik, Produk Dekorasi Rumah dari Bantul Tembus Pasar Amerika dan Eropa

Permintaan global terhadap produk dekorasi rumah kembali menunjukkan tren positif. Hal ini tercermin dari pelepasan ekspor tiga kontainer home decor ke Amerika dan Eropa yang dilakukan Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri. Pelepasan simbolis bernilai lebih dari Rp500 juta itu berlangsung di pabrik CV Palem Craft, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa peluang pasar untuk produk dekorasi rumah Indonesia masih terbuka lebar dan terus tumbuh.

Roro mengatakan ekspor yang dilepas pada Rabu (26/11) tersebut menunjukkan keberlanjutan permintaan dunia, sekaligus dorongan bagi pelaku industri lokal untuk terus meningkatkan kualitas dan kreativitas. “Pengiriman ini menegaskan bahwa pasar masih percaya terhadap mutu dan karakter produk buatan Indonesia. Kualitas, desain, dan keahlian atau craftsmanship harus terus dijaga agar tetap kompetitif,” ujarnya.

 

Dalam pengiriman kali ini, tiga negara menjadi tujuan utama. Belgia menerima pengapalan dengan nilai USD14.063, Amerika Serikat sebesar USD9.269, dan Belanda senilai USD6.731. Selain itu, pada Desember 2025 pemerintah juga akan melepas ekspor tambahan menuju Spanyol, Amerika, Prancis, dan Australia dengan nilai transaksi lebih dari USD14 ribu.

Permintaan Global Terus Naik

Menurut Roro, pasar dunia masih mencatat pertumbuhan positif untuk kategori produk dekorasi rumah. Pergeseran gaya hidup yang mengutamakan produk kreatif, berkelanjutan, serta memiliki kekhasan budaya menjadi pendorong utama. Dalam empat tahun terakhir, nilai ekspor Indonesia untuk kategori ini tumbuh hampir 20 persen.

PT Mitra Mortar indonesia

Amerika Serikat menjadi tujuan ekspor terbesar dengan kontribusi 53,44 persen, disusul Belgia, Jerman, dan Kanada. “Peluangnya sangat besar. Dunia mencari produk yang tidak hanya fungsional, tetapi juga punya nilai desain dan sentuhan budaya. Indonesia memiliki modal kuat di sektor ini,” ucap Roro.

 

Namun, ia mengingatkan bahwa kompetisi semakin ketat. Negara-negara seperti Vietnam, Filipina, dan Thailand terus melahirkan desain modern dengan kualitas produksi yang konsisten. Untuk itu, pelaku industri di Tanah Air perlu menjaga standar finishing, memperkuat konsistensi produksi, serta menyesuaikan desain dengan tren pasar internasional. Ia menekankan bahwa keunggulan budaya Indonesia harus diterjemahkan melalui karya yang relevan dan modern.

Dukungan Pemerintah untuk Dorong Daya Saing Ekspor

Kementerian Perdagangan turut memperkuat ekosistem ekspor melalui berbagai program. Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN), Fajarini Puntodewi, menegaskan bahwa peningkatan kualitas desain menjadi faktor krusial agar produk Indonesia tetap bernilai di pasar global. “Ke depan, persaingan bukan hanya soal harga, tetapi bagaimana desain mampu membawa cerita budaya Indonesia secara relevan,” jelasnya.

Melalui Ditjen PEN, Kemendag menjalankan program UMKM BISA Ekspor yang memberikan pendampingan mulai dari desain, sertifikasi, hingga fasilitasi ekspor. Perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri—termasuk 24 Atase Perdagangan, 19 ITPC, KDEI Taipei, dan Konsul Perdagangan Hong Kong—juga aktif membuka peluang bisnis bagi pelaku industri.

 

“Tujuan kami satu: memastikan produk Indonesia semakin dikenal dan memiliki posisi kuat di pasar global. Ini hanya bisa dicapai jika kualitas, desain, dan konsistensinya terus ditingkatkan,” tambah Puntodewi.

CEO CV Palem Craft, Deddy Effendy, mengapresiasi dukungan pemerintah yang memperlancar ekspor perusahaannya. Berdiri sejak 2003, Palem Craft telah menembus berbagai negara seperti Prancis, Belgia, Spanyol, Dubai, Lebanon, Singapura, Australia, hingga Afrika Selatan.

Sebagian besar produknya mengandalkan bahan baku alami lokal seperti bambu, biji mahoni, batu apung, rumput rayung, dan serat pisang—material yang selama ini menjadi daya tarik utama produk dekorasi rumah Indonesia di pasar internasional.

Sumber