tirto.id - Suhu mencapai minus tidak menjadi penghalang bagi empat orang seniman asal Bali dalam meraih peringkat ketiga dalam 28th Harbin International Show Sculpture pada Jumat (9/1/2026) di Cina. Tim beranggotakan I Nyoman Sungada, I Ketut Suaryana, Gede Agus Kurniawan, dan I Gede Agustin Anggara Putra sukses mengukir patung Dewi Dhanwantari dengan media salju.
Tidaklah mudah untuk mengukir patung dengan detail rumit dengan terpaan suhu di bawah nol derajat tersebut. Mereka harus bekerja selama kurang lebih 30 jam dengan durasi perlombaan selama total 4 hari, ditambah berkutat dengan pakaian berlapis dan badai salju yang bisa saja menerpa ketika berlaga di Sun Island, Harbin, Cina.
“Pekerjaan kami itu banyak, apalagi konsep Dewi Dhanwantari yang memiliki 10 tangan. Harus banyak lubangnya. Namun, saya merasa sangat senang di akhir karena waktu kami masih ada 3 jam tersisa. Syukurlah, kami sudah menduduki posisi ketiga dalam kompetisi yang melibatkan 25 tim dari 13 negara itu,” kata I Nyoman Sungada, ketika Tirto bertandang ke kediamannya, Sabtu (17/1/2026).
Sungada juga mengatakan terdapat sebuah motivasi yang terus ditanamkan dalam benaknya, terutama untuk memotivasi dirinya sendiri dan anggota Himpunan Seniman Pecatu (HSP), agar tidak menyerah untuk mengikuti kompetisi seni patung salju tingkat internasional.
Motivasi tersebut mengantarkannya untuk mengikuti 16 kali kompetisi dan menjadi mentor bagi anak muda Desa Pecatu dalam dunia seni ukir.
“Seni itu tidak ada batasnya kalau kita mau belajar. Di sinilah sebenarnya tempat yang bagus untuk mengembangkan potensi diri. Bukan hanya belajar di seninya saja, tetapi kita juga mendapat pergaulan antarbangsa. Kita belajar berkomunikasi, belajar mengenai orang dengan beragam karakter, dan mengenal daerah orang. Supaya kita tidak hanya menutup diri di daerah saja seperti katak dalam tempurung,” jelasnya.
Motivasi yang sama tertanam dalam diri I Ketut Suaryana yang menjadi ketua dari Bali Talent Artist. Dia melihat kompetisi mengukir salju sebagai sebuah batu loncatan untuk mengembangkan seni dapur (kitchen art) menjadi sesuatu yang lebih kompleks.
Dari perlombaan itu pula, Suaryana mulai mengenal karakteristik karya seni milik negara lainnya. Berlatar belakang motivasi tersebut, Sungada dan Suaryana menggandeng Agus dan Agustin yang merupakan pemuda Bali dengan profesi sebagai seniman dapur (kitchen artist) di hotel.
Kedua pemuda tersebut merasa antusias untuk mengikuti kompetisi di Harbin agar mendapatkan pengalaman dan melebarkan sayapnya ke dunia internasional.
“Kami sudah berpikir cari generasi. Jadi setiap kami berangkat, kami harus menyisipkan dua anak muda. Karena kami sudah berpikir mengenai umur. Siapa lagi kalau bukan mereka (anak muda) yang menjadi penerus? Makanya harus ada regenerasi,” ungkap Suaryana.

I Nyoman Sungada (kanan) dan I Ketut Suaryana (kiri) ketika diwawancarai di kediamannya yang terletak di Desa Pecatu, Kuta Selatan, Badung, Sabtu (17/01/2026). Tirto.id/Sandra Gisela
Sungada dan Suaryana sama-sama memiliki latar belakang seni dapur di hotel, meskipun telah pensiun pada 2020. Mereka mulai mengenal seni memahat es (ice carving) pada 1990-an. Namun, pada 2018, Sungada mulai menggandeng Suaryana untuk mengikuti kompetisi memahat salju di Harbin. Sungada sendiri sudah mulai terjun lebih dulu dalam dunia pahat salju pada 2013.
“Semuanya di tahun 2018, saya baru tahu salju. Kalau perbedaan es dan salju, es lebih keras dan punya alat yang lebih spesial daripada salju. Es bisa pakai mesin untuk memotong, tetapi kalau salju tidak. Harus manual semua alat-alatnya,” ungkap Suaryana.
Pada 2013, Sungada memulai perjalanannya dalam seni memahat salju dengan bergabung bersama tim dari Jakarta yang mewakili Indonesia di Sapporo, Jepang. Saat itu, seniman Jakarta diminta membentuk tim dari pengukir es di hotel-hotel. Sungada menjadi salah satu anggotanya, bersama dengan satu orang dari Manado, satu orang dari Jakarta, dan dua orang dari Bali.
Setelah pengalaman tersebut, pada 2015, Sungada membawa tim yang berisikan anggota dari Karang Taruna Desa Pecatu. Tim yang berangkat tersebut membuat ukiran ayam jago di dalam sangkar dengan menggunakan media salju. Kerja keras tersebut berbuah hasil karena tim tersebut mendapatkan penghargaan the best skill.
Hingga 2026, Sungada telah 16 kali mengharumkan nama bangsa di ajang pahat salju internasional. Penghargaan tersebut datang sebanyak 10 kali dari kompetisi di Harbin, sementara 6 kali datang dari kompetisi di Sapporo dan Nayoro, yang terletak di Jepang. Kali ini, dia bertekad untuk melebarkan sayapnya ke kompetisi di negara lainnya, seperti Kanada dan Rusia.
“Sekarang, anggap buah dari perjuangan kami, sekarang sedikit tidaknya sudah diringankan karena antusiasme dari anak-anak muda yang ingin melabel dirinya ke internasional,” tambah Sungada.

Tim Indonesia ketika membuat patung Dewi Dhanwantari di Sun Island, Harbin, Cina, dalam kompetisi 28th Harbin International Show Sculpture. Foto: Dokumentasi I Nyoman Sungada
Kisah untuk menyulap balok salju setinggi 4 meter dengan luas 3x3 meter menjadi karya patung Dewi Dhanwantari tidaklah sederhana dan mudah.
Sebagai konseptor dan kapten tim, Sungada mengaku kesulitan mendapatkan ide konsep yang akan diusung. Barulah ketika lima hari sebelum penutupan pendaftaran, dia mendapatkan ide dari melihat miniatur karyanya di Pantai Batu Belig.
Awalnya, Sungada ragu mengangkat Dewi Dhanwantari sebagai konsep karena rumit. Patung tersebut memiliki sepuluh tangan dengan masing-masing memegang daun yang melambangkan alam semesta; guci berisikan tirta amerta yang melambangkan keabadian; uang kepeng yang melambangkan kekayaan; teratai yang melambangkan kesucian; cakra yang melambangkan putaran kehidupan; kotak lontar yang melambangkan ilmu pengetahuan; dan bayi yang melambangkan penciptaan.
Namun, Sungada seolah mendapatkan bisikan dari Tuhan untuk mengusung Dewi Dhanwantari menjadi konsep. Maka, setelahnya, dia mulai membuat miniatur dari patung tersebut dengan media campuran gabus dan tanah liat. Miniatur tersebut baru selesai dalam waktu dua minggu karena Sungada harus membuat detail dari sekujur tubuh Dewi Dhanwantari.
“Saya harus membuat polanya dulu. Setelah itu, baru kami suruh mereka pelajari. Kami harus melatih untuk memahat. Mana bagian yang harus dihilangkan terlebih dulu agar kami bisa membuat bentuknya, itu yang perlu dipelajari,” terangnya.
Konsep Dewi Dhanwantari tersebut lantas diajukan kepada pihak penyelenggara kompetisi untuk mengikuti seleksi. Beruntung, konsep yang mereka usung menjadi salah satu yang diterima untuk menjadi salah satu di antara 25 tim yang berlaga di Harbin pada awal Januari 2026.

Sketsa patung Dewi Dhanwantari yang akan diukir di salju dalam kompetisi 28th Harbin International Show Sculpture. Foto: Dokumentasi I Nyoman Sungada
Di samping persiapan secara teknis, mereka juga mengadakan penggalangan dana untuk menyokong kebutuhan selama berada di Harbin. Sungada dan Suaryana mengaku, mereka harus menjual kupon bazar untuk memenuhi biaya tiket perjalanan dan keperluan selama berada di luar negeri. Tidak jarang, mereka harus membeli pakaian atau peralatan tambahan.
Saat berada di Sun Island, mereka memerlukan pakaian berlapis dan sarung tangan, pelembap bibir dan wajah, serta minuman hangat untuk menemani perjuangan mengukir salju. Sebagai warga daerah tropis pula, mereka berpotensi mengalami gatal-gatal dan pengelupasan pada kulit akibat terlalu lama berada di bawah cuaca ekstrem.
Untuk menghemat waktu, mereka harus mengakali jam makan. Mereka membawa sarapan dari hotel dan termos berisikan kopi ke lokasi konstruksi agar kelak dapat dikonsumsi pada jam makan siang. Mereka ingin menghemat waktu agar patung selesai sesuai jadwal kompetisi, yakni pada pukul 2 siang di hari terakhir.
“Kompetisi dimulai pada 9 pagi. Namun, jam 5 kami sudah bangun untuk sarapan, pakai baju dan lain sebagainya. Itu enggak cukup 45 menit karena kami pakai pakaiannya itu berlapis, terkadang bisa 5 lapis sampai jaket yang terakhir,” terang Suaryana, menimpali.
Pada hari pertama kompetisi, Sungada bekerja untuk membentuk pola utama. Berbeda dengan mengukir kayu yang menggunakan palu, memahat salju memerlukan dorongan yang pelan. Tekstur salju yang lembut dan mudah runtuh mengakibatkan para seniman harus mengukir dari atas ke bawah.
“Harus membuat dulu tangga-tangganya, level-levelnya buat kami injak. Pokoknya, skala itu benar-benar harus pas hitungannya. Ini hilang tiga sentimeter, ini hilang satu meter, semuanya harus tertata. Makanya, pada hari pertama, semuanya bawa meteran,” ungkap Suaryana.
Setelah pola utama terbentuk, selanjutnya mereka membentuk pola secara lebih detail. Sungada mengungkap, mereka membagi tugas untuk masing-masing bagian. Seiring dengan terbentuknya figur Dewi Dhanwantari, mereka mulai merasakan masuknya taksu ke dalam patung tersebut. Dalam filosofi Bali, taksu diartikan sebagai kekuatan spiritual yang memancarkan kewibawaan dan kesuksesan.
Orisinalitas dan filosofi merupakan dua hal yang menjadi perhatian dari para seniman tersebut, terutama karena kedua hal tersebut merupakan aspek penilaian utama dalam kompetisi. Sungada menyebut, para juri akan mengetahui karya-karya yang sudah pernah dipentaskan dalam kompetisi memahat salju sebelumnya.
“Apa yang terlihat aneh atau belum juara, malah itu yang juara. Jika kita membuat sesuatu yang terlihat nyata, tetapi filosofinya tidak ada, tidak mungkin dapat juara. Makanya, susah sekali menentukan. Tidak tertebak oleh pikiran,” terang Suaryana.
Hasil tersebut berbuah manis dengan tanggapan dari orang asing terhadap karya mereka. Sungada menyebut, banyak orang yang kagum dengan karya tersebut, bahkan menduga karya itu akan keluar menjadi juara di kompetisi. Namun, tidak jarang pula ada yang baru mengetahui tentang Bali dari karya yang mereka hadirkan dalam kompetisi.
“Banyak ternyata yang tidak tahu Bali. Hanya tahu Bali itu bagus, tetapi tidak pernah datang. Dari saat itulah kita bercerita, Bali itu seperti ini. Jadi istilahnya promosi budaya dan pariwisata juga. Karena mereka dari masing-masing negara juga membawa budaya, mereka perkenalkan di sana lewat pahatan,” jelasnya.

Miniatur patung Dewi Dhanwantari yang dibuat oleh I Nyoman Sungada unutk keperluan lomba. Tirto.id/Sandra Gisela
Tim pengukir salju dari negara lainnya juga menaruh atensi kepada tim Indonesia yang berasal dari negara tropis. Sungada mengungkap bahwa tim Rusia sempat menghampiri mereka dan mengundang untuk hadir di bulan November 2026 dalam kejuaraan memahat salju lainnya. Hal tersebut dinilai sebagai peluang untuk melebarkan sayap oleh kedua seniman asal Bali tersebut.
“Mereka kagum karena Indonesia tidak punya salju dan bertanya: bagaimana cara Anda latihan dan membuat ini? Kadang-kadang waktu closing ceremony, kami pakai pakaian Bali, pakai baju batik agar menonjolkan budaya dan tradisi kita. Di situ mereka punya antusiasme, mau mengenal Indonesia lebih dekat,” imbuh Suaryana.
Meskipun sudah berusia lebih dari 60 tahun, keduanya masih ingin terus berkarya. Ketika berada di Harbin, Sungada melihat seorang pematung perempuan yang masih lebih tua dibandingkan mereka. Namun, semangat pematung tersebut masih ada dan tangannya masih lincah mengukir es.
Selanjutnya, patung es tersebut akan bertahan hingga Mei 2026. Sun Island juga akan membuka galeri sebagai objek wisata musim dingin. Sungada mengatakan, antusiasme orang Indonesia untuk datang ke galeri tersebut cukup tinggi. Tidak jarang, mereka melontarkan pujian terhadap karya yang dirancang oleh seniman asal Indonesia itu.
“Kami seperti menanam dulu, agar anak-anak (penerus) nanti tidak kesulitan. Kami sekarang menjalani dengan senang hati, tidak pernah mengeluh untuk itu. Terpenting semangatnya dulu. Kalau ada semangat dan keinginan, kalau kita berusaha, hal baik pasti datang,” tutup Sungada.
Sumber