Kekayaan tradisi dari ufuk timur Indonesia berhasil memukau publik di wilayah Bay Area, Amerika Serikat. Diplomasi kebudayaan ini dikemas dalam sebuah perhelatan bertajuk Celebrating the Rich Cultural and Artistic Traditions of Papua yang diinisiasi oleh KJRI San Francisco.
Seperti dilansir dari Detik Travel, agenda yang berlangsung di Wisma Indonesia tersebut menjadi sarana strategis untuk memposisikan Papua sebagai pusat keragaman identitas nasional. Sebanyak lima puluh tamu undangan hadir mendalami kekayaan artistik Bumi Cenderawasih.
Para peserta yang terdiri dari pejabat setempat, akademisi, hingga diaspora diajak mengeksplorasi identitas Papua melalui diskusi interaktif dan pameran seni. Suasana imersif yang dibangun memungkinkan tamu merasakan kehangatan tradisi lisan hingga ekspresi visual yang bermakna mendalam.
Selain aspek seni, sektor pariwisata Papua yang sudah mendunia juga menjadi sorotan utama dalam kegiatan ini. Selain kawasan Raja Ampat, kekayaan alam Papua turut diwakili oleh keberadaan Teluk Cenderawasih sebagai habitat alami hiu paus.
Keunikan fauna lokal seperti burung cenderawasih atau bird of paradise juga diperkenalkan sebagai simbol kecantikan alam Papua. Hal ini mempertegas posisi kawasan tersebut sebagai destinasi wisata dengan daya tarik yang unik dan autentik.
Konsul Jenderal RI San Francisco, Yohpy Wardana, menekankan nilai penting dari keragaman yang dimiliki oleh wilayah paling timur Indonesia tersebut dalam memperkuat hubungan antarbangsa.
"Papua adalah salah satu kawasan dengan keragaman budaya dan bahasa tertinggi di dunia. Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan cerita, nilai, dan identitas masyarakat Papua secara lebih dekat kepada publik Amerika Serikat, sekaligus memperkuat pemahaman lintas budaya," ujar Yohpy Wardana.
Yohpy Wardana juga membagikan ikatan emosional pribadinya karena pernah menghabiskan masa kecil di Biak. Pengalaman tersebut menumbuhkan apresiasi mendalam terhadap nilai kearifan lokal serta keramahan penduduk Papua yang ingin ia bagikan kepada dunia.
Acara ini menghadirkan perspektif langsung dari pakar tanah Papua, yakni Prof. Dr. Wigati Yektiningtyas dari Universitas Cenderawasih dan Dr. James Modouw yang pernah menjabat sebagai Staf Khusus Mendikbud RI.
Diskusi yang berlangsung menyoroti dinamika serta tantangan dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah di tengah gempuran modernisasi. Papua sendiri memiliki lebih dari 270 bahasa daerah yang menunjukkan tingginya tingkat linguistik wilayah tersebut.
Sebagai bentuk kontribusi nyata, Prof. Wigati aktif mendokumentasikan dan menerbitkan karya folklore Papua. Langkah ini dilakukan untuk memastikan warisan budaya tetap terjaga dan dapat diteruskan kepada generasi muda di masa depan.
Prof. Wigati dan Dr. James menyampaikan apresiasi atas inisiatif promosi yang dilakukan oleh pihak konsulat di San Francisco dalam memperkenalkan identitas daerah mereka ke mancanegara.
"Kami memandang kegiatan ini sangat penting untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan pariwisata Papua kepada publik Amerika Serikat, khususnya di San Francisco," kata keduanya.
Interaksi antara manusia dan alam juga ditampilkan melalui showcase lukisan kulit kayu (bark painting) khas masyarakat Danau Sentani. Melalui agenda ini, Papua diposisikan bukan sekadar destinasi alam, melainkan warisan budaya hidup yang tetap relevan dalam keberagaman global.
Sumber