MediaPemalang.com - Kebaya, warisan busana khas Indonesia, kini resmi memasuki pasar ritel Malaysia melalui kemitraan strategis yang difasilitasi Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur. Roemah Kebaya Vielga, produsen kebaya asal Indonesia, menjalin kerja sama eksklusif dengan Collabstore, platform ritel dan distribusi asal Malaysia. Peresmian dilakukan di Kuala Lumpur pada Senin, 15 Juni 2026.
Kemitraan ini bukan sekadar urusan bisnis biasa. KBRI Kuala Lumpur memainkan peran kunci melalui pencocokan bisnis, dukungan akses pasar, dan keterlibatan berkelanjutan dengan para pemangku kepentingan dari kedua negara. Hasilnya, produk kebaya Indonesia kini bisa dijangkau oleh konsumen Malaysia melalui butik multi-merek yang sudah memiliki jaringan luas.
Baca Juga: 43 Juta Siswa Ingin MBG Dilanjutkan, Penelitian UI Buktikan Dampak Positif terhadap Motivasi Belajar
Vielga Wennida, desainer sekaligus pendiri Roemah Kebaya Vielga, menjelaskan bahwa kebaya yang dibawa ke pasar Malaysia telah disesuaikan dengan budaya dan permintaan lokal. Malaysia memiliki populasi Muslim yang besar, sehingga desain kebaya diadaptasi dengan gaya yang lebih panjang dan tertutup.
"Kami mencoba menyesuaikan style Indonesia dengan Malaysia. Kadang Malaysia itu mereka suka busana kebaya yang panjang-panjang. Kita harus melihat trennya karena di sini banyak Muslim, jadi kami harus mencocokkan desain kami dengan style Muslim," jelas Vielga.
Produk yang ditawarkan sangat beragam, mulai dari kebaya encim, bolero, kebaya panjang, kebaya batik, sepatu bordir, tas, hingga berbagai aksesori. Keanekaragaman ini menjadi keunggulan tersendiri karena menawarkan pilihan lengkap bagi konsumen yang mencari busana berbasis budaya Indonesia.
Collabstore saat ini menaungi 42 merek fesyen, dan 12 di antaranya berasal dari Indonesia. Richard Tsen, pendiri Collabstore, menyambut baik kehadiran Roemah Kebaya Vielga sebagai penambah koleksi yang kaya akan nilai budaya. Kemitraan ini diharapkan bisa menjadi model bagi pelaku ekonomi kreatif Indonesia lainnya yang ingin menembus pasar Malaysia.
Hendra Purnama Iskandar, Menteri Konselor KBRI Kuala Lumpur, menekankan bahwa kemitraan ini menunjukkan bagaimana promosi ekonomi kreatif bisa diwujudkan menjadi akses pasar yang nyata dan pertumbuhan bisnis. Saat ini penetrasi ekspor industri kreatif dan UMKM Indonesia baru mencapai 20 persen. Angka tersebut perlu ditingkatkan hingga 30 bahkan 40 persen.
Keberhasilan ini membuka inspirasi bagi pelaku UMKM fesyen di Pemalang dan daerah lainnya. Pasar ASEAN, khususnya Malaysia dan Singapura, memiliki potensi besar untuk produk fesyen berbasis budaya Indonesia. Kuncinya ada pada kemampuan beradaptasi dengan selera lokal tanpa kehilangan identitas produk.
Diplomasi ekonomi melalui perwakilan Indonesia di luar negeri terbukti bisa menjadi jembatan yang efektif. Bagi pelaku usaha yang serius ingin ekspor, membangun koneksi dengan KBRI dan konsultan perdagangan di negara tujuan bisa menjadi langkah awal yang sangat berharga.
Sumber