Perajin Wayang Kulit Catat Penjualan hingga Pasar Luar Negeri

RRI.CO.ID, Jakarta - Di tengah budaya modern, kerajinan tradisional asal Yogyakarta dan Bali justru semakin eksis di pasar domestik hingga mancanegara. Hal ini membuktikan bahwa warisan leluhur masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat maupun kolektor internasional.

Suyono, pemilik Omah Wayang Maju Karya, merupakan generasi ketiga dalam keluarganya yang menekuni kerajinan wayang kulit. Ia mengenal wayang kulit di bangku sekolah, sebelum akhirnya memutuskan mandiri membangun usahanya sendiri pada tahun 1990.

"Saya mulai belajar membuat wayang dari SD kelas empat, dan saya merupakan salah satu turunan yang ketiga. Setelah kakek-nenek, orang tua, lalu saya mengawali dari tahun 1990," kata Suyono saat berbincang bersama Pro3 RRI, Jakarta, Sabtu, 25 Juli 2026.

Ia mengatakan produk wayang kulit buatannya berhasil menembus pasar luar negeri dengan persentase mencapai empat puluh persen. Sementara itu, enam puluh persen penjualan masih diserap oleh pasar dalam negeri, seperti Jakarta, Bandung, hingga Yogyakarta.

"Pembeli wayang kulit ini memang empat puluh persen ke luar negeri, lalu enam puluh persen ke dalam negeri. Pembeli yang ada di dalam negeri biasanya dalang, dan banyak dibeli dari kota-kota besar," ujarnya.

Dalam proses produksinya, Suyono kini dibantu oleh tujuh belas mitra kerja untuk memenuhi permintaan wayang kulit. Soal harga, wayang kulit buatannya dibanderol cukup variatif mulai dari Rp50 ribu hingga jutaan rupiah.

Sementara itu, Keju Juwhat, pemilik Keju Art Studio, membuka bisnisnya sejak tahun 2015. Ia biasanya membuat berbagai produk kesenian buatan tangan khas Bali, seperti layang-layang dan ogoh-ogoh.

"Saya dari kecil memang sudah menyukai kesenian, dan merintis UMKM ini mulainya dari tahun 2015. Kalau untuk sekarang, saya lebih berfokus kepada topeng layang-layang, karena di Bali sedang ada festival layang-layang," ucap Juwhat dalam kesempatan yang sama.

Katanya, layang-layang umumnya dibuat menggunakan material kayu, kecuali untuk pembuatan ogoh-ogoh yang lebih mengandalkan tanah liat. Ogoh-ogoh itu nantinya dihias sedemikian rupa hingga menyerupai wujud yang diinginkan.

"Semua materialnya kayu, kecuali topeng ogoh-ogoh, itu kita biasanya membuat dari clay. Tanah liatnya kita bentuk sedemikian rupa, kemudian kita hias dan kita pasang di ogoh-ogohnya," ujarnya.

Ia mengatakan seni kerajinan khas Bali kini telah merambah hampir seluruh wilayah Indonesia mulai dari Jawa hingga Papua. Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi pasar domestik untuk kerajinan tradisional Indonesia masih cukup luas.

Juwhat mengandalkan empat orang tenaga kerja di studionya untuk menciptakan berbagai karya seni tersebut. Adapun layang-layang buatannya dibanderol mulai dari Rp500 ribu untuk ukuran kecil hingga puluhan juta rupiah untuk ukuran besar. (Shafa)

Sumber