Madinah, Bangsapedia.com— Tidak banyak warga Indonesia yang mampu membangun usaha kuliner di Arab Saudi.
Di tengah ketatnya persaingan dan berbagai tantangan regulasi, seorang perantau asal Cilacap, Jawa Tengah, berhasil membuktikan bahwa mimpi besar bisa diwujudkan melalui kerja keras, keberanian, dan keyakinan.
Nama aslinya adalah Muhammad Sarwono Thoyyibi Alakhir. Namun ia dikenal dengan panggilan Chef Omar.
Ia kini mengembangkan sejumlah usaha kuliner di Kota Madinah, namanya the Java Signature.
Namun perjalanan menuju titik tersebut bukanlah cerita instan.
Sebelum menjadi pengusaha, Omar menjalani kehidupan layaknya pekerja migran Indonesia pada umumnya.
Ia bekerja kepada majikan Saudi dengan sistem gaji bulanan dan hari libur yang terbatas.
Di balik rutinitas tersebut, tersimpan mimpi besar yang terus ia pelihara.
"Saya tidak ingin selamanya menjadi pekerja. Dari Indonesia saya sudah punya cita-cita agar cita rasa dan produk Indonesia bisa dikenal di luar negeri," ujarnya Jumat (19/6/2026)
Belajar 11 Tahun Sebelum Berani Membuka Usaha
Omar mengaku tidak langsung terjun membuka bisnis ketika pertama kali tiba di Arab Saudi.
Ia memilih mengamati dan mempelajari berbagai aspek kehidupan di negeri tersebut, mulai dari budaya, ekonomi, hingga karakter masyarakatnya.
Lima tahun ia habiskan di Madinah dan sisanya di Makkah.
Total hampir 11 tahun ia menimba pengalaman sebelum akhirnya memutuskan membangun usaha sendiri.
Menurutnya, memahami lingkungan adalah modal penting bagi siapa saja yang ingin berwirausaha di luar negeri.
"Dari situ saya mencari celah, mencari strategi, dan mempersiapkan legalitas agar bisa berkarya secara resmi," katanya.
Mengapa Memilih Dunia Kuliner?
Bagi Omar, dunia kuliner bukan sekadar urusan memasak.
Ia memandang makanan sebagai bidang yang menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan manusia.
Menurutnya, kuliner berkaitan dengan ekonomi, kesehatan, psikologi, hingga hubungan sosial.
Seorang koki harus memahami karakter konsumennya, termasuk kebiasaan makan dan selera yang berbeda-beda.
"Dari makanan saya bisa belajar membaca karakter orang. Ada yang suka pedas, ada yang suka gurih. Setiap tamu punya cerita dan kepribadian yang berbeda," ujarnya.
Ia meyakini bahwa profesi koki merupakan pekerjaan yang memiliki nilai tinggi.
Di berbagai negara dan lingkungan kenegaraan, makanan selalu menjadi bagian penting dalam penyambutan tamu.
"Orang pertama yang membuat tamu negara merasa nyaman adalah koki yang menyiapkan makanannya," katanya.
Otodidak hingga Menembus MasterChef Indonesia
Meski tidak memiliki pendidikan formal di bidang kuliner, Omar berani menguji kemampuannya melalui ajang MasterChef Indonesia.
Dengan modal keberanian, ia datang langsung ke kantor stasiun televisi penyelenggara meski pendaftaran saat itu telah ditutup.
Berkas yang dibawanya ternyata mendapat perhatian tim seleksi.
Ia pun mengikuti berbagai tahapan wawancara hingga akhirnya diterima sebagai peserta.
"Saya belajar memasak secara otodidak. MasterChef menjadi pengalaman berharga yang memperluas wawasan dan jaringan pertemanan saya," ujarnya.
Hingga kini, hubungan silaturahmi dengan sejumlah peserta MasterChef generasi awal masih terjalin dengan baik.
Masakannya Dinikmati Pejabat hingga Tokoh Nasional
Kepercayaan diri Omar semakin tumbuh ketika hasil masakannya mulai dinikmati berbagai kalangan, mulai dari pejabat daerah hingga tokoh nasional.
Baginya, pencapaian tersebut terasa istimewa karena ia berasal dari keluarga sederhana yang jauh dari kemewahan.
"Saya orang kampung yang belajar sendiri. Ketika masakan saya bisa diterima oleh pejabat, artis, hingga tokoh masyarakat, itu menjadi kebanggaan tersendiri," katanya.
Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa cita rasa Indonesia memiliki peluang besar untuk berkembang di pasar internasional.
Java Signature, Misi Membawa Rasa Indonesia ke Dunia
Saat ini Omar mengembangkan brand kuliner bernama Java Signature, sebuah restoran yang menyajikan cita rasa khas Nusantara di Madinah.
Konsep tersebut lahir dari keinginannya menghadirkan makanan Indonesia yang autentik bagi jamaah umrah, jamaah haji, warga Indonesia yang bermukim di Arab Saudi, hingga masyarakat internasional.
Menurut Omar, cita rasa Indonesia tetap menjadi identitas utama.
Namun ia juga menyesuaikan tingkat kepedasan dan karakter menu dengan preferensi konsumen dari berbagai negara.
"Kalau suatu negara tidak suka pedas, kami sesuaikan. Tapi cita rasa autentik Indonesia tetap dipertahankan," ujarnya.
Selain restoran, Omar juga mengembangkan layanan katering, transportasi jamaah, serta rencana pembangunan central kitchen untuk memenuhi kebutuhan jamaah umrah dan haji.
Berangkat dari Keluarga Sederhana
Kesuksesan yang diraih Omar saat ini tidak lepas dari perjuangan masa kecilnya.
Ia lahir dari keluarga sederhana dengan keterbatasan ekonomi dan pendidikan.
Kedua orang tuanya hanya mengenyam pendidikan dasar.
Namun mereka berjuang keras demi masa depan anak semata wayangnya.
Omar sendiri hanya lulusan SMP, kemudian ia memilih nyantri di beberapa pesantren.
Setelah itu, Omar merantau ke Jakarta dan merasakan kerasnya kehidupan.
Dari sang ibu, Omar mendapatkan pesan hidup yang hingga kini terus ia pegang.
"Jangan pernah serakah terhadap dunia dan jangan menyakiti orang lain, meskipun kita disakiti," kenangnya.
Pesan tersebut menjadi fondasi dalam menjalani kehidupan dan membangun usaha.
Di usia yang telah memasuki kepala lima, Omar mengaku masih menyimpan mimpi besar. Ia ingin meninggalkan karya yang bermanfaat sebelum ajal menjemput.
Salah satu cita-cita terbesarnya adalah memperluas jaringan restoran Indonesia hingga dikenal di berbagai negara.
Ia juga ingin membuktikan bahwa produk kuliner Indonesia mampu bersaing dengan merek-merek besar yang telah lebih dulu populer di Arab Saudi.
"Saya ingin meninggalkan karya. Kalau Allah memberi kelebihan di bidang memasak, saya ingin memanfaatkannya untuk menghadirkan restoran Indonesia yang dikenal dunia," ujarnya.
Bagi Omar, kesuksesan bisnis bukan hanya soal keuntungan.
Yang lebih penting adalah keberkahan, pelayanan yang tulus, dan kemampuan menghadirkan kebahagiaan melalui makanan.
Sumber