Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei, bersama Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (DJPEN) Kementerian Perdagangan RI dan Akademi Mudah Ekspor, berhasil menyelenggarakan rangkaian kegiatan Temu Diaspora: Wujudkan Mimpi Jadi Eksportir Produk Indonesia di Taiwan pada awal Februari 2026. Acara yang berlangsung selama tiga hari ini menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi produk unggulan Indonesia di pasar Taiwan dan memberdayakan diaspora Indonesia sebagai penggerak perdagangan internasional.

Salah satu produk asli Indonesia yang diperkenalkan dalam kegiatan Temu Diaspora: Wujudkan Mimpi Jadi Eksportir Produk Indonesia
Pemberdayaan Diaspora dan Visi Strategis
Kepala KDEI Taipei, Arif Sulistiyo, dan Dirjen DJPEN, Fajarini Puntodewi, menegaskan bahwa diaspora memiliki peran krusial dalam mengenali potensi pasar lokal di Taiwan. Dr. Ir. Fernanda Reza Muhammad, Founder Akademi Mudah Ekspor, menambahkan bahwa ekspor kini tidak lagi menjadi monopoli korporasi besar.
"Ekspor bisa dimulai dari skala ritel. Diaspora, baik mahasiswa maupun Pekerja Migran Indonesia (PMI), dapat berperan sebagai agen atau perantara tanpa modal besar untuk mempelajari minat pasar sebelum mendirikan perusahaan sendiri," ungkap Dr. Ir. Fernanda Reza Muhammad di Taipei.
Ia menjelaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya bergerak dengan empat visi utama, sebagai edukator, fasilitator, agregator, dan akselerator. Dengan jumlah anggota mencapai 38.000 pelaku usaha dari Sabang sampai Merauke, Akademi Mudah Ekspor berperan aktif dalam mempersiapkan UKM agar siap bersaing di kancah internasional.
"Kami tidak asal membawa pelaku usaha ke luar negeri. Kami melakukan riset pasar dan survei terlebih dahulu. Di Taiwan, kami berkolaborasi dengan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) untuk mendapatkan informasi mengenai produk apa yang paling sesuai dan dibutuhkan oleh pasar lokal," ujarnya.

Produk kerajinan tangan dan kain tenun yang dihasilkan oleh anak-anak berkebutuhan khusus dari Payung Astra
Produk Inklusif dan Warisan Budaya
Salah satu sorotan utama dalam kegiatan ini adalah kehadiran Payung Arsa, unit pemberdayaan disabilitas dari Pasirian, Lumajang. Produk kerajinan tangan dan kain tenun yang dihasilkan oleh anak-anak berkebutuhan khusus ini telah memenuhi standar kualifikasi ekspor, menunjukkan bahwa narasi perjuangan dan inklusivitas sangat dihargai di pasar Taiwan.
Berawal dari keprihatinan terhadap masa depan siswa-siswi berkebutuhan khusus setelah lulus sekolah (SMALB), Payung Arsa hadir sebagai rumah kedua. Lembaga ini memberikan pelatihan keterampilan mulai dari membatik, ecoprint, menjahit, hingga pembuatan kerajinan tangan dan lukisan.
Chairman Payung Arsa, Debora Fie Ling, menjelaskan bahwa fokus utama mereka adalah memberikan bekal kemandirian. Siswa-siswi dari tingkat SD hingga kelas 12 SMA didorong untuk mengenali potensi diri mereka.
"Kami berpikir, setelah mereka lulus sekolah, mereka mau kerja apa? Jika kami tidak memberikan wadah dan keterampilan, mereka akan kesulitan. Itulah mengapa kami menjembatani mereka melalui Payung Arsa," ujar Debora Fie Ling dalam sebuah sesi wawancara.
Keunikan dari produk Payung Arsa terletak pada proses pembuatannya. Salah satu produk unggulan mereka adalah kalung kerajinan yang dibuat oleh anak-anak dengan hambatan intelektual (IQ di bawah 40). Meski memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi, ketelitian tangan mereka menghasilkan produk yang rapi dan memiliki nilai estetika tinggi. Selain itu, mereka juga memproduksi kain tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) dengan kualitas Grade A dan B, serta berbagai produk kriya yang dapat disesuaikan (custom) menurut permintaan pembeli.

Siti Zahro, Ph.D., dari Karya Bhumi, berkomitmen untuk memberdayakan wanita di tiga desa di Indonesia dengan memproduksi kerajinan tangan dari daun pandan dan bambu.
Komitmen Siti Zahro, Ph.D. dalam Memperkenalkan Produk Indonesia
Siti Zahro, Ph.D., dari Karya Bhumi, juga berbagi pengalamannya dalam menjembatani produk UMKM Indonesia ke pasar Taiwan. Lulusan S3 dari National Yunlin University of Science and Technology (YUN TECH) ini melihat potensi besar di Taiwan, terutama untuk produk kosmetik dan makanan yang sesuai dengan kebutuhan lokal.
Siti Zahro mengembangkan produk kosmetik yang dapat mengatasi masalah kulit kering akibat cuaca dingin di Taiwan. Selain itu, ia juga memperkenalkan bawang goreng murni yang digemari masyarakat Taiwan, serta makanan sehat seperti kue kacang dan kerupuk singkong yang rendah gula dan tanpa tepung.
Ia berkomitmen untuk memberdayakan wanita di tiga desa di Indonesia dengan memproduksi kerajinan tangan dari daun pandan dan bambu. Produk-produk ini telah dikirim ke berbagai negara dan kini Siti Zahro berupaya memasarkan di Taiwan, yang dikenal peduli terhadap isu lingkungan.
"Setiap UMKM yang berhasil menembus pasar internasional tidak hanya menguntungkan diri sendiri, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal," kata Siti Zahro. Ia berharap dapat membawa lebih banyak dosen dan pelatihan keterampilan ke Taiwan, sehingga para pekerja migran Indonesia dapat kembali ke tanah air dengan keterampilan yang bermanfaat.
Siti Zahro menekankan pentingnya kolaborasi antara Indonesia dan Taiwan dalam mengatasi masalah sampah dan mempromosikan produk alami yang bermanfaat bagi kesehatan. "Taiwan adalah rumah kedua saya, dan saya ingin memberikan dampak positif bagi negara ini," tutupnya.

Salah satu motif yang menarik perhatian adalah Kintil-kintilan. Dalam bahasa setempat, kintil berarti mengikuti arus.
Menelusuri Filosofi 12 Motif Pakem Batik Surabaya: Dari Sejarah Kota hingga Visi Global
Kota Surabaya kini resmi memiliki 12 motif batik pakem yang menjadi identitas visual baru bagi kota pahlawan tersebut. Kehadiran motif-motif ini bukan sekadar hiasan kain, melainkan sebuah narasi panjang mengenai sejarah, karakter masyarakat, hingga titik-titik vital yang membentuk jiwa Surabaya.
Stan Batik Nusantara memperkenalkan filosofi dari produk-produk mereka. Perwakilan dari Batik Nusantara menyampaikan bahwa keduabelas motif pakem ini lahir dari proses kurasi yang ketat melalui lomba desain batik khas Surabaya yang digelar secara bertahap.
Setiap goresan dalam batik pakem ini melambangkan aspek krusial kota. Sebagai contoh, motif Bambu Rinting yang memadukan kemegahan Tugu Pahlawan, keelokan Tari Remo, dan suasana pesisir Pantai Kenjeran. Ada pula motif Banyu Semara yang menangkap visual objek-objek vital di Surabaya.
Salah satu motif yang menarik perhatian adalah Kintil-kintilan. Dalam bahasa setempat, kintil berarti mengikuti arus. Motif ini menggambarkan ikon legendaris Surabaya, Ikan Suro (hiu) dan Boyo (buaya), yang bergerak mengikuti aliran air.
"Filosofinya adalah karakter orang Surabaya yang mampu beradaptasi dan bertahan hidup di mana pun mereka berada, layaknya mengikuti arus namun tetap memiliki jati diri," ujar seorang pengrajin batik saat menjelaskan makna di balik desain tersebut.

PT Cahaya Makmur Jaya, memamerkan beragam hasil bumi Nusantara, mulai dari Kopi Toraja dan Bajawa hingga rempah-rempah.
Komoditas Unggulan dan Peluang Hilirisasi
Di sektor komoditas, PT Cahaya Makmur Jaya, memamerkan beragam hasil bumi Nusantara, mulai dari Kopi Toraja dan Bajawa hingga rempah-rempah seperti cengkeh, gambir, dan kemenyan. Perusahaan ini mencatat adanya peluang besar pada tren konsumsi kopi yang meningkat pesat di Taiwan dalam satu dekade terakhir.
Selain kopi, sektor rempah dan hasil hutan juga menjadi daya tarik utama. Produk yang ditawarkan meliputi cengkeh asal Sulawesi, Gambir, serta kemenyan dari Sumatera Utara yang menjadi bahan baku industri parfum global. Tak ketinggalan, komoditas Pinang asal Sumatera dan Sulawesi juga diperkenalkan, mengingat tingginya konsumsi pinang di Taiwan serta potensinya sebagai bahan baku farmasi.
Keputusan untuk merambah pasar Taiwan didasari oleh analisis pasar yang tajam. Direktur PT Cahaya Makmur Jaya, Haryanto Tedjo, mencatat adanya pergeseran tren konsumsi di Taiwan dalam satu dekade terakhir.
"Masyarakat Taiwan yang sebelumnya sangat dominan sebagai peminum teh, kini mulai beralih menjadi penggemar kopi. Pertumbuhan konsumsi kopi di sana sangat menarik bagi pasar kami. Kami membawa berbagai sampel, baik Arabika maupun Robusta, untuk menguji selera pasar lokal," ungkapnya.
Keberhasilan PT Cahaya Makmur Jaya menembus pasar internasional, termasuk Jepang dan Singapura, menjadi modal penting dalam menghadapi regulasi ketat di Taiwan. Perusahaan menekankan pentingnya kesiapan dokumen dan pemahaman regulasi sebelum melakukan pengiriman.
"Sebelum ekspor, kami memastikan seluruh dokumen yang diperlukan oleh negara tujuan telah siap. Belajar dari pengalaman ekspor bubuk kunyit ke Jepang dan gula kelapa serta keluak ke Singapura, kepatuhan terhadap regulasi adalah kunci agar proses impor di negara tujuan berjalan lancar," tambahnya.
Sumber